Minggu, 21 April 2013

TECHNOPRENEUR UNTUK PERTANIAN INDONESIA





Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam dan hasil pertaniannya. Berbagai hasil pertanian mulai dari tanaman perkebunan, hortikultura, sayur-sayuran, buah-buahan, hingga hasil hutan dapat dihasilkan oleh Indonesia. Indonesia sendiri mampu mengekspor beberapa produk pertaniannya meskipun beberapa diantaranya masih ada yang diimpor dikarenakan jumlah produksi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seluruh masyarakat Indonesia. 

Sampai saat ini, Indonesia hanya mampu mengekspor bahan mentah saja dan nilai tambahnya diterima oleh Negara lain. Sebagai contoh, Indonesia hanya mampu mengekspor singkong tanpa diolah. Singkong yang dikenal sebagai makanan kampungan dan hanya kita kenal sebagai bahan pangan saja, ternyata memiliki nilai tambah yang luar biasa. Di Jepang, singkong dapat diolah menjadi minuman “sake” yang tentunya memiliki harga jual yang lebih tinggi. Bahkan di Negara lain, singkong bisa dijadikan obat-obatan antibiotik. Bayangkan saja jika kita menjual singkong ke luar negeri dengan harga 1000 rupiah per kilogramnya. Kemudian di Negara lain, 1 kilogram singkong tersebut dapat diolah menjadi sebotol antibiotik dan kita misalkan antibiotik tersebut dijual dengan harga 15.000 rupiah per botolnya. Berapa nilai tambah dan keuntungan yang didapatkan Negara lain dari singkong ini? Tentunya akan sangat tinggi. Dan yang lebih mirisnya lagi, antibiotik tadi kembali diekspor ke Indonesia dengan harga yang lebih tinggi lagi, padahal bahan baku awalnya berasal dari Negara kita. 

Fenomena yang diceritakan di atas bukan hanya untuk singkong saja, melainkan masih banyak produk pertanian lainnya. Karena itulah sangat dibutuhkan seorang technopreneur yang handal dalam bidang pertanian. Technopreneur yaitu seorang wirausaha yang berbasis teknologi. Bayangkan saja betapa kayanya Indonesia ini dan betapa makmurnya rakyat Indonesia jika Indonesia bisa menghasilkan berbagai produk sendiri, terlebih lagi kita sudah memiliki berbagai bahan bakunya sendiri tanpa perlu mengimpor dari Negara lain. Bukan hanya produk pertanian saja yang bisa memiliki nilai tambah, bahkan saat ini limbah dari produk pertanian itu sendiri juga bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Dalam hal ini saya akan mencontohkan sebuah teknologi yang telah diciptakan oleh Negara China dimana Negara ini membuat sebuah alat canggih yang dapat mengubah limbah suatu produk pertanian menjadi sesuatu yang bermanfaat. Teknologi ini dinamakan greenware. Teknologi ini memanfaatkan limbah berupa serbuk dari kelapa sawit dan dapat dijadikan styrofoam. Alat ini sangat canggih karena bisa menghasilkan styrofoam dengan cepat. Styrofoam yang ada saat ini sangat tidak ramah lingkungan dan membutuhkan waktu yang lama untuk diuraikan. Styrofoam yang berasal dari limbah serbuk kelapa sawit ini tentu saja akan ramah lingkungan. Namun sangat disayangkan Indonesia belum memiliki teknologi tersebut. 

Lihatlah betapa sangat dibutuhkannya teknologi dalam bidang pertanian ini. betapa kayanya Indonesia ini jika memiliki technopreneur-technopreneur yang sadar akan hal ini. Indonesia akan sangat kaya dan betapa banyaknya rakyat yang akan hidup sejahtera jika Indonesia mampu menciptakan teknologi untuk bidang pertanian dan menciptakan berbagai macam produk yang berasal dari pertanian termasuk limbahnya. Semoga kelak akan ada technopreneur-tecnopreneur yang mampu menciptakan teknologi-teknologi canggih untuk kemajuan Indonesia itu sendiri.

_Nurul Utari_


link MBA ITB

fanpage lomba MBA ITB

Selasa, 27 Maret 2012

FENOMENA TOMCAT


Sepertinya yang sedang jadi trending topic akhir-akhir ini ialah… jreng… jreng… jreng… Rata PenuhTOMCAT. Ya.. kalo kita perhatikan, nggak di facebook, twitter, BBM, TV, Koran, semuanya ngebahas masalah yang satu ini. Waktu saya pertama kali mendengar nama TOMCAT ini, saya pun penasaran dan langsung mencari di mbah google. Hanya sepintas sih yang say abaca, sekedar tau kalo TOMCAT itu adalah sejenis serangga yang merupakan predator pemakan wereng. Saya pun hanya bergumam “oooo”. Ternyata hanya predator pemakan wereng, tapi… kenapa seluruh Indonesia jadi heboh dengan serangga yang satu ini. Katanya kalo digigit sama TOMCAT ini, kulit jadi iritasi sampai terlihat mengerikan. BENARKAH SAMPAI SEBEGITUNYA….??

Hmm… sepertinya saya mendapatkan jawaban dari ini semua. Ada hal yang mesti orang-orang tau mengenai TOMCAT ini. Penjelasan ini saya dapatkan saat kuliah DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN dari ibu PROF. DR. Ir. SITI HERLINDA, M.Si. beliau menjelaskan mengenai TOMCAT ini. Dan nggak jauh beda dengan apayang saya dapatkan dari mbah google, bahwa Tomcat merupakan salah satu predator pemakan wereng. Mungkin ada yang belum tau ya predator itu apa, terus wereng itu siapa… oke oke,, akan saya jelaskan dulu.

WERENG adalah hama yang menyerang tanaman padi. Akibat serangan wereng ini, batang sampai daun padi jadi menguning. Hal seperti ini dapat menyebabkan gagal panen.

PREDATOR adalah organisme/serangga yang memakan serangga lain. Bisa dikatakan, predator merupakan musuh alami dari hama. Jadi, akan sangat menguntungkan jika hama dikendalikan oleh musuh alaminya sendiri tanpa harus melakukan penyemprotan racun-racun yang sangat tidak ramah lingkungan. Seperti contoh ya itu tadi, WERENG sebagai hamanya dan TOMCAT sebagai salah satu predatornya.

Dan sekarang yang jadi pertanyaanya, KENAPA TOMCAT YANG HANYA PREDATOR INI MENJADI HEBOH SE-INDONESIA??? Status orang-orang di facebook, BBM, twitter, rata-rata ngebahas serangga yang satu ini. Malahan jadi trending topic. Bahkan di twitter sampe-sampe ada yang seru”an buat status dengan mengubah judul” lagu menjadi bertemakan TOMCAT… wihhh,, kok sampe segitunya. Sebenarnya mereka sendiri tau nggak sih apa itu TOMCAT? Atau hanya sekedar ikut-ikutan saja? Saya harap pembaca bukan orang yang demikian… sekarang jaman canggih lho!! Semua bisa di cari dengan satu klik saja… jadi jangan Cuma sekedar ikut-ikutan…

Dan untuk berita-berita heboh yang diberitakan akibat serangan TOMCAT ini, teman-teman nggak perlu khawatir kok. Apabila kita terkena serangan TOMCAT ini, JANGAN PERNAH UNTUK MENEKAN TOMCAT YANG BERADA DI ATAS KULIT KITA, karena dengan menekannya, TOMCAT akan mengeluarkan cairan yang bisa membuat iritasi kulit. TAPIIII… garis bawahi ya… iritasinya itu nggak separah kayak apa yang dberitakan kok. Sampe” kayak penyakit herpes gitu… hiiii…. Hanya sekedar iritai biasa, hanya saja bila orang itu mudah alergi, maka dampaknya bisa sedikit lebih parah dari ritasi biasa. Makanya kalo tiba-tiba ada TOMCAT di kulit kalian, tiup aja TOMCAT itu secara perlahan biar dia nggak mengeluarkan cairan yang menyebabkan iritasi kulit seperti tadi.

Nah, udah tau semua kan mengenai TOMCAT… jadi,, please deh jangan LEBAY… serangga predator wereng kok malah menghebohkan.

Dannnn… jangan terlalu banyak nyemprot TOMCAT hingga akhirnya populasinya sangat menurun dan tidak bisa lagi menjadi musuh alami dari wereng. Kalo nggak ada TOMCAT, siapa yang mau mengendalikan wereng? Pestisida-pestisida itu nggak akan sehebat musuh alami dalam mengendalikan hama bahkan sangat tidak ramah lingkungan. Bayangkan aja kalo nggak ada TOMCAT, wereng bisa semakin meledak populasinya dan akan menyerang tanaman padi. Semua petani akan gagal panen dan ujung-ujungnya HARUS IMPOR BERAS…!!! Tuh kan, lebih heboh lagi nggak kalo kita harus IMPOR BERAS? Pasti tuh…!! akan ada demo lagi dan semacamnya. Lagian salah siapa juga yang membunuh TOMCAT…

“JADI, BIARKANLAH KESEIMBANGAN EKOSISTEM ITU TETAP TERJAGA… SEMUANYA AKAN TERKENDALI BILA RANTAI MAKANAN DAN JARING-JARING MAKANAN ITU TETAP TERJAGA DAN TIDAK TERPUTUS….”

HIDUP PERTANIAN INDONESIA..!!!

Minggu, 29 Januari 2012

Aquaponic

Sekedar info nih buat teman" yang belum tahu tentang Aquaponic. Sebenarnya, apa sih Aquaponic itu? mungkin teman-teman sudah sangat sering mengenai hidroponik yaitu suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara. Lalu bagaimana dengan Aquponic?

Bukan menggurui ya, tapi hanya sekedar memberi info buat teman-teman yang belum tau. Ternyata dalam bercocok tanam, ada banyak media yang bisa digunakan. Tanah? udah biasa... Pasir? juga udah...
jadi, Aquaponic adalah suatu metode bercocok tanam dimana ikan dan tanaman akan bersimbiosis mutualisme.
Materi Aquaponic ini sendiri pernah saya dapatkan saat semester 1 dari bapak Dr. Ir. Entis S. Halimi, M.Sc. Mungkin teman-teman masih bingung ya mengenai pengertian Aquaponic tadi. Kok bisa ikan dan tanaman bersismbiosis mutualisme? Apa maksudnya?
oke,, saya akan coba sedikit menjelaskan tentang Aquaponic, tapi sebatas pengetahuan saya saja ya... hhe..



Nah, setelah melihat gambar-gambar tersebut, mungkin teman-teman udah sedikit mengerti ya mengenai Aquaonik itu sendiri. Ya, aquaponic ini merupakan metode bercocok tanam yang terdiri atas dua kultur yaitu buddaya ikan dan bercocok tanam secara hidroponik. Tanaman yang ditanam yaitu berupa tanaman sayuran seperti kangkung, cabai, tomat, dan lain sebagainya. Sedangkan ikan yang dibudidayakan dapat berupa ikan mas, nila, patin, lele, gurame dan masih banyak lagi lainnya. Dalam hal ini, ikan menyumbang hara berupa sisa pakan dan kotoran yang berfaedah bagi tanaman. Tanaman juga tahu membalas jasa dengan memasok oksigen yang diperlukan ikan. Aquaponik yaitu memanfaatkan secara terus menerus air dari pemeliharaan ikan ke tanaman dan sebaliknya dari tanaman ke kolam ikan. Inti dasar dari sistem teknologi ini adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-masing komoditas dengan memanfaatkan sistem re-sirkulasi.
Banyak sekali keuntungan yang didapat dari Aquaponic ini sendiri. Hal utama adalah hematnya lahan yang dgunakan. Teman-teman bisa lihat sendiri, di aquarium rumah kita sendiri pun, kita bisa melakukan Aquaponic. Itu artinya, tidak perlu lahan besar dalam bercocok tanam sayuran. Dengan begitu, seseorang dapat melakukan udidaya ikan dan seyuran sekaligus dalam satu tempat. Keuntungan lainnya yaitu hematnya air. Dengan adanya simbiosis antara ikan dan sayuran ini, maka air akan senantiasa bersih dimana tanaman akan menyerap hara berupa sisa pakan dan kotoran ikan, sedangkan tanaman sendiri akan memberikan pasokan oksigen terhadap ikan.

Nah, demikanlah penjelasan singkat dari saya mengenai Aquaponic. Untuk lebih jelasnya teman-teman bisa mencari info lebih lanjut di mbah google atau bertanya pada ahlinya karna yang saya tulis ini hanyalah sebatas pengetahuan saya... Terima kasih dan semoga bermanfaat untuk teman-teman semuanya... :)



Selasa, 27 Desember 2011

Penggunaan media massa dalam penyuluhan pertanian

Jika membicarakan penggunaan media massa dalam penyuluhan, yang patut dipertimbangkan adalah peranan dalam program penyuluhan dan penggunaannya secara efektif. Yang penting adalah efek yang diharapkan dan cara menggunakannya untuk menjamin agar arti pesan menjadi jelas. Surat kabar, majalah, radio dan televisi merupakan media yang paling murah untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Walaupun demikian, perlu diamati pengaruhnya sebelum diputuskan penggunaanya dalam penyuluhan. Media penting untuk menyadarkan akan adanya inovasi disamping untuk mendorong minat. Walaupun demikian, media tampaknya hanya menunjukkan bahwa media massa dapat mempercepat proses perubahan, tetapi jarang dapat mewujudkan perubahan dalam perilaku.

Media massa dapat memenuhi beberapa fungsi di dalam masyarakat dan turut berperan mengubah masyarakat tersebut yang mencakup:

  1. Menentukan Jadwal Diskusi Yang Penting

Sebagai contoh, media memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi masyarakat saat terjadi kelaparan dan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Majalah pertanian dan program siaran radio pedesaan juga dapat memainkan peran penting dalam mendorong petani untuk membicarakan masalah demikian dengan penyuluh / pemuka desa.

2. Mengalihkan Pengetahuan

Pengetahuan akan berhasil dialihkan bilamana sesuai dengan kebutuhan. Gagasan baru yang disebar melalui media lebih cepat diterima jika berkaitan dengan pengetahuan yang ada, daripada melakukan modifikasi terhadap pengetahuan. beberapa macam pengetahuan dapat dialihkan melalui media, sedangkan pengetahuan dan keterampilan yang lain tidaklah demikian.

3. Membentuk dan Mengubah Pendapat

Media massa dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan pendapat bila anggota masyarakat belum memiliki pandangan yang kuat mengenai isu tertentu. Media juga akan memperoleh pengaruh penting dalam perubahan pendapat bila posisi yang diajukan hanya berbeda sedikit dengan pendapat baru.

4. Mengubah Perilaku

Media massa dapat digunakan untuk mengubah pola perilaku, terutama yang kecil dan relatif kurang penting, atau perubahan untuk memenuhi keinginan yang ada. Periklanan sangat berhasil dengan cara ini.

Secara umum pemanfaatan media dalam meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian terbilang rendah. Secara khusus meskipun tingkat pendidikan formalnya tinggi, namun pemanfaatan media massa rendah, disebabkan oleh keterbatasan dalam kepemilikan media komunikasi dan informasi, dan kurang maksimalnya dukungan keluarga.

Rendahnya pemanfaatan media massa terutama dalam pemanfaatan koran, buku, radio, dan internet. Pemanfaatan majalah dalam katagori sedang, sedangkan televisi meskipun pemanfaatannya tinggi tetapi subtansinya kurang sesuai dengan kebutuhan penyuluhan.

Pemanfaatan media terprogram dalam katagori sedang. Hal ini terlihat dari pertemuan antar penyuluh tinggi, namun pemanfaatan media terprogram lainnya yaitu pelatihan dan pendidikan formal lanjutan rendah. Meskipun tingkat pendidikan formal tinggi, namun pemanfaatan media rendah, tidak sebanding dengan tuntutan klien yang terus meningkat. Rendahnya pemanfaatan media lingkungan ini terutama terjadi dalam mengamati lingkungan alam dan lingkungan usaha pertanian, sedangkan pendalaman inovasi mandiri dalam katagori sedang.

Kompetensi penyuluh pertanian tergolong rendah, terutama dalam : pengelolaan kewirausahaan, pengelolaan pembaharuan, dan pemandu sistem pengelolaan pelatihan, pengelolaan pembelajaran, dan pengelolaan komunikasi inovasi termasuk dalam katagori sedang.

Kompetensi penyuluh ini dipengaruhi oleh rendahnya intensitas pelatihan dan lemahnya dukungan lembaga penyuluhan dalam menciptakan lingkungan kondusif untuk belajar. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kompetensi ini adalah pendalaman inovasi mandiri, motivasi, pemanfaatan majalah, pertemuan antar penyuluh, dan umur penyuluh yang mendekati pensiun (tua).

Strategi pengembangan kompetensi penyuluh pertanian berbasis pemanfaatan media ditempuh melalaui pemanfaatan media massa, media terprogram, dan media lingkungan secara terpadu dan saling melengkapi. Media massa yang digunakan yaitu majalah yang secara berkelanjutan subtansinya sesuai dengan penyuluhan dan melalui siaran televisi yang dirancang khusus untuk pembangunan perdesaan.

Pemanfaatan media terprogram ditempuh melalui pendekatan-pendekatan : peningkatan pendidikan formal lanjutan, peningkatan intensitas pertemuan, serta peningkatan intensitas dan kualitas pelatihan. Pemanfaatan media lingkungan ditempuh melalui pengkondisian lingkungan yang kondusif yaitu memfasilitasi kemudahan penyuluh dan partisipasi petani untuk melakukan uji coba inovasi dan memanfaatkan berbagai media belajar untuk pendalaman inovasi.

Penelitian yang dilakukan menghasilkan temuan bahwa di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, peningkatan kompetensi penyuluh tidak cukup hanya mengandalkan media terprogram (pendidikan formal atau pelatihan konvensional) saja, akan tetapi perlu memanfaatkan media massa dan media lingkungan. Ternyata media yang paling kuat mempengaruhi kompetensi penyuluh adalah media lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terutama tentang karakteristik dan model pemanfaatan media lingkungan dalam mempercepat peningkatan kompetensi penyuluh.

Terkait tingginya potensi media televisi sebagai media yang dapat digunakan untuk peningkatan kompetensi penyuluh, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terutama secara operasional tentang pengembangan subtansi dan format acara, sistem penyiaran, dan kerjasama yang bisa saling menguntungkan berbagai pihak terkait dalam pengembangan siaran televisi pembangunan perdesaan. Hasil penelitian ini diketahui pula masih ada variabel-variabel lain yang belum dimasukkan dalam model tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sasaran yang lebih luas.

Kesadaran penyuluh perlu ditingkatkan untuk terus belajar dalam meningkatkan kompetensinya sesuai tuntutan masyarakat. belajar adalah tuntutan profesi bagi penyuluh pertanian. Belajar ini tidak hanya melalui pendidkan formal atau pelatihan saja, tetapi banyak media lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan penyuluh, terutama media massa dan media lingkungan.

Selain itu penyuluh perlu lebih peka membaca kebutuhan lingkungan. Materi penyuluhan tidak hanya didasarkan pada hasil penelitian atau inovasi saja, tetapi perlu diselaraskan dengan kebutuhan dan potensi petani di lapangan.

Minggu, 13 November 2011

Revolusi Hijau

Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini. Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960).Konsep Revolusi Hijau yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan masyarakat) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras. Tujuan tersebut dilatarbelakangi mitos bahwa beras adalah komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi yang sering disabut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur.Gerakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.

Revolusi hijau di Indonesia

Gerakan Revolusi Hijau yang dijalankan di negara – negara berkembang dan Indonesia dijalankan sejak rezim Orde Baru berkuasa. Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia tidak mampu untuk menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap, tetapi hanya mampu dalam waktu lima tahun, yakni antara tahun 19841989. Disamping itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum Revolusi Hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.

Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh para pendukungnya, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena ekses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. Kritik lain yang muncul adalah bahwa Revolusi Hijau tidak dapat menjangkau seluruh strata negara berkembang karena ia tidak memberi dampak nyata di Afrika.

Dampak positif revolusi hijau

Produksi padi dan gandum meningkat sehingga pemenuhan pangan (karbohidrat) meningkat. Sebagai contoh: Indonesia dari pengimpor beras mampu swasembada.

Permasalahan dan dampak negatif

1.Penurunan produksi protein, dikarenakan pengembangan serealia (sebagai sumber karbohidrat) tidak diimbangi pengembangan pangan sumber protein dan lahan peternakan diubah menjadi sawah.

2.Penurunan keanekaragaman hayati.

3.Penggunaan pupuk terus menerus menyebabkan ketergantungan tanaman pada pupuk.

4.Penggunaan peptisida menyebabkan munculnya hama strain baru yang resisten.

Indonesia baru mengetahui dampak dari revolusi hijau baru-baru ini, sedangkan Negara luar yang dulunya mengembar-gemborkan revolusi hijau, justru telah mengetahui dampak dari penggunaan pupuk anorganik dan pestisida. Disaat Indonesia bangga dengan pertaniannya yang subur, negara lain malah justru tertawa atas kebanggan kita. Kita dianggap bodoh dan mereka sengaja membiarkan kita agar sektor pertanian kita jatuh. Saat ini, Indonesia kembali menggunakan bahan-bahan organik, namun Negara-negara lain tidak mau lagi memakai produk Indonesia karena mereka tahu, walaupun Indonesia sudah menggunakan bahan-bahan organic, namun tanah tempat penanaman masih tercemar bahan-bahan anorganik terdahulu dan butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkannya.

INDONESIA ADALAH NEGARA YANG KAYA. NAMUN SANGAT KURANG SEKALI INFORMASI YANG DI DAPAT, SEHINGGA KITA KETINGGALAN ZAMAN DARI NEGARA-NEGARA MAJU.

SUATU HARI NANTI INDONESIA AKAN BISA KEMBALI MENJADI SWASEMBADA.